Randhy Ichsan

Islam, Ekonomi, Indonesia

Pantas kah aku bergembira hari ini

Tamu istimewa itu telah beranjak pergi menanti 11 bulan untuk kembali menghampiri. Bulan penuh keberkahan dan ampunan itu telah berlalu. Dan hari ini Ramadhan berganti Syawal, Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar.

Hari ini ketupat, lontong, rendang, opor ayam dan sebagainya yang menjadi ikon hari raya akan tersedia hampir di seluruh meja makan di rumah-rumah penjuru negeri ini. Hari ini semua bersuka cita, Idul Fitri adalah hari kemenangan bagi umat Islam setelah menang melawan hawa nafsu dengan berpuasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan. Hari ini di negeri ini Allah masih menurunkan rahmatNya dengan senyum-senyum bahagia yang menggambarkan betapa setiap orang bergembira menyambut Idul Fitri. Gelak tawa berkumpul bersama keluarga yang mungkin hanya bisa dilakukan di hari ini. Uang-uang cetakan terbaru dengan pecahan nominal kecil hari ini pun siap dibagikan, kepada keponakan, tetangga, dan lainnya, kita menyebutnya THR.

Sejatinya Idul Fitri dan Idul Adha adalah sesuatu yang dilakukan oleh Rasulullah SAW untuk mencegah kebiasaan mungkar yang dilakukan oleh kaum Jahiliyah di Madinah. Kaum Jahiliyah ketika itu memiliki dua hari raya yang dirayakan dengan hura-hura, mabuk-mabukan dan kegiatan maksiat lainnya sebagaimana sabda nabi, “Allah telah menggantikannya untuk kalian dengan Idul Fitri dan Idul Adha“. Oleh karena itu, merayakan Idul Fitri dan Idul Adha bagi umat Islam hakikatnya adalah amar makruf nahi mungkar.

Hari ini 1 Syawal 1435 H, kembali terbesit kegelisahan dalam hati. Malam-malam esok tak akan terdengar lagi kemeriahan lantunan ayat suci, tak terdengar lagi suara-suara dzikir mengagungkan nama Allah melalui speaker-speaker dengan volume tinggi. Masjid-masjid akan kembali sepi, jalan-jalan akan kembali lengang setelah sebulan kemarin dipenuhi penjaja makanan pembuka puasa. Esok akan sulit aku temukan mata-mata para pencari ampunan yang bengkak karena kurang tidur dan banyak menangis.

Oh Ramadhan, pantaskah aku bergembira hari ini. Tidakkah seharusnya aku bersedih karena bulan penuh ampunan telah berlalu. Tidakkah seharusnya aku menangis karena tahun depan belum tentu Ramadhan akan menghampiriku. Sungguh sesungguhnya aku tak akan sanggup untuk bergembira ketika aku menyadari bahwa amal ibadahku belum tentu diterima oleh Allah SWT. Belum tentu ibadahku bernilai pahala karena mungkin didalamnya terselip sebongkah kesombongan, terselip pengharapan akan pujian dari manusia. Teringat sebuah Hadits dari Riwayat Bukhori “Tidaklah seseorang itu dimasukan kedalam surga karena amalannya, berkata para sahabat, “Bagaimana dengan Engkau Ya Rasulullah? Tidak, tidak juga aku, kecuali Allah telah melimpahkan kepadaku fadhillah dan rahmat-Nya. Maka berlaku luruslah, dan mendekatlah dan janganlah salah seorang dari kalian mengharap pada kematian. Jika dia orang baik semoga bisa menambah amal baiknya. Dan jika dia orang buruk semoga bisa menjadikannya bertobat.”

Masih mampukah aku bergembira ketika bulan-bulan mendatang tak ada lagi pahala yang Ia obral, bulan esok pintu surga tidak akan dibuka seluruhnya, setan-setan akan kembali dilepas dari belenggu yang mengurungnya selama 1 bulan. Oh Ramadhan, pertanyaan demi pertanyaan membuatku tak sanggup untuk harus bergembira meninggalkanmu, tidak aku manfaatkan dengan baik kedatanganmu.

Demi masa, sesungguhnya manusia kerugian, melainkan Ia yang beriman dan yang beramal sholeh. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H, mohon maaf lahir batin.

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s