Randhy Ichsan

Islam, Ekonomi, Indonesia

Kisruh Mobil Murah dan Inkonsistensi Pemerintah

Kisruh produksi mobil murah atau juga dikenal dengan istilah Low Cost Green Car (LCGC) menjadi headline diberbagai media di negeri ini, hal ini tak lepas karena pro dan kontra dari berbagai lapisan masyarakat. Hal ini pun tentunya ikut menarik perhatian saya terkait inkonsistensi pemerintah mengenai kebijakan yang telah dibuat karena terkesan sangat kontradiktif. Jujur saya tak habis pikir dan bingung, disaat begitu sesumbarnya pemerintah beberapa saat lalu untuk menekan konsumsi bahan bakar dan penggunaan public transport sebagai langkah mengurangi kemacetan, pemerintah sekarang malah bertindak untuk menyetujui keberadaan mobil murah. Tentunya ini merupakan kebijakan yang sangat bertolak belakang dan bagi saya ini adalah langkah yang salah besar karena jelas secara logika dasar dengan harga yang lebih murah alias terjangkau akan meningkatkan jumlah konsumsi masyarakat akan kendaraan roda empat, akibatnya jelas jumlah mobil akan semakin banyak dan tentu pembaca semua telah dapat menerka dampak dari semakin banyaknya keberadaan mobil pribadi.

Setidaknya ada tiga dampak negatif yang saya ramalkan. Pertama, dengan banyaknya mobil pribadi akan memperbesar peluang terjadinya kemacetan di jalan raya. Kedua, dengan meningkatnya jumlah penggunaan kendaraan roda empat akan berdampak pada konsumsi bahan bakar yang semakin banyak pula, meskipun produsen dengan lantangnya menyatakan bahwa mobil murah ini hemat bahan bakar dan ramah lingkungan. Oke seandainya memang irit bahan bakar, tapi apakah jika konsumen (pengguna) mobil ini sangat banyak tetap akan menghemat konsumsi bahan bakar? Jelas tidak, ini merupakan pembenaran yang menyesatkan. Ketiga, dengan hadirnya mobil murah hasil produksi penguasa industri otomotif kelas dunia akan menekan pengembangan mobil nasional. Seperti yang kita ketahui, Indonesia sudah sangat tertinggal dalam hal pengembangan teknologi, berkaca pada negeri tetangga, mereka telah memiliki mobil nasional yang sekarang merek mobil tersebut sudah tidak asing di jalanan negeri ini. Bagaimana dengan Indonesia? Beberapa prototype karya anak bangsa pernah muncul untuk diproduksi secara massal sebagai cikal bakal mobil nasional, tapi apa daya mereka kekurangan modal dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah, akhirnya ya produksi tersebut terhenti dan terpaksa kembali mengendap menanti investor dan perhatian pemerintah. Dengan adanya program mobil murah yang digagas oleh Kementerian Perindustrian ini akan semakin membuat program mobil nasional menjadi angan belaka.

Saat ini, pertumbuhan kendaraan roda empat mencapai angka 1,1 juta pertahun. Bayangkan dengan hadirnya mobil murah yang artinya bisa dimiliki dengan harga terjangkau, pertumbuhan kendaraan roda empat bisa mencapai 1,3 juta hingga 1,5 juta pertahun. Saya sangat antusias ketika pemerintah beritikad baik untuk menekan konsumsi BBM, tapi setelah adanya program ini membuat saya sangat kecewa terlebih dengan dalih menyediakan kendaraan yang nyaman dan murah bagi konsumen berpenghasilan kecil, pernyataan ini berasal dari petinggi negeri ini, bapak MS Hidayat dalam wawancara singkat yang ditayangkan dibeberapa media nasional. Beliau juga melengkapi pernyataannya bahwa program mobil murah tidak lain untuk masyarakat yang ada di daerah sehingga berkesempatan memiliki mobil. Jadi jelas kan tujuan dihadirkannya mobil ini, untuk meningkatkan kepemilikan mobil!

Saya setuju dengan bapak Jokowi yang secara blak-blakan memprotes kebijakan ini, bahkan ia telah mengambil tindakan nyata dengan mengirimkan surat protes kepada Wakil Presiden bapak Boediono. Seperti yang ia utarakan disela pertemuan para Kepala Daerah Ibukota antar anggota ASEAN yang digelar di Hotel JW Marriot kamis lalu (19/9/2013) “mobil murah itu enggak benar, yang benar itu transportasi yang murah”. Pemerintah memang seharusnya memaksimalkan keberadaan kendaraan massal, sehingga masyarakat bisa memilih, seperti Busway, MRT, kereta listrik dan lainnya, tidak usah jauh-jauh, mari belajar saja dengan Singapura.

Menteri ESDM Jero Wacik memperkirakan kuota BBM bisa menembus level 50 juta KL bila tidak ada rencana pengendalian kuota BBM. Produksi mobil saat ini bisa mencapai 4.000 unit per bulan dan pesanan mobil yang ada mencapai 11.000 unit, sedangkan kuota BBM hingga akhir tahun ini mencapai 48 juta kiloliter (KL), meningkat dari sebelumnya 46 juta KL.

Sekali lagi menurut saya sebaiknya kebijakan mobil murah atau Low Cost Green Car (LCGC) ini dihentikan karena tidak sesuai dengan berbagai kebijakan pemerintah lainnya yang berniat mengurangi konsumsi BBM. Lebih baik pemerintah fokus pada perbaikan fasilitas dan kenyamanan transportasi publik. Saya membayangkan suatu saat Indonesia bisa seperti Jepang dan beberapa negra maju lainnya yang dengan penuh kesadarannya masyarakat memilih untuk berjalan kaki, bersepeda, atau menggunakan transportasi publik. Itu semua terjadi karena masyarakat disana merasa nyaman untuk melakukan hal tersebut dan tentunya hal ini karena peran penting pemerintah dalam membangun, membuat regulasi, dan memberikan jaminan keamanan serta kenyaman bagi masyarakatnya.

Bangsa ini adalah bangsa konsumtif, semua menyadari hal tersebut dengan demikian sasaran ditujukannya mobil murah bagi kalangan diluar pulau Jawa sehingga pulau Jawa tetap terjaga populasi kendaraannya sekalipun tidak akan pernah tercapai, lihat saja nanti jumlah penjualan kendaraan murah ini. Sekali lagi sebaiknya kebijakan ini dihentikan, pemerintah seharusnya segera bertindak untuk menyelamatkan negeri ini dari keterpurukan, bukan sebaliknya. Saya menuntut untuk adanya perbaikan fasilitas transportasi umum, beri ruang selapang-lapangnya bagi pejalan kaki, dan beri kami jalan bagi pengendara sepeda. Salam.

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s