Randhy Ichsan

Islam, Ekonomi, Indonesia

Nasehat Datuk – Speak Up

Sebelum kepulangannya kembali ke Pematang Siantar, Medan, datuk As yang bekerja di Bank Indonesia menyempatkan diri berkunjung ke rumah nenek yang kebetulan hanya berada disamping rumah. Sebelumnya datuk As juga sudah datang mengunjungi nenek untuk bergabung bersama keluarga besar lainnya berlebaran di rumah nenek, tapi pada saat itu belum sempat mendapatkan petuah lebih banyak dari beliau karena tentu saja disamping banyak tamu yang datang juga beliau banyak bercerita bersama keluarga lainnya.

Hingga pada hari rabu (14/8/13) kemaren ketika beliau datang untuk berpamitan pulang ke Siantar baru lah bisa mendengarkan lebih banyak cerita tentang beliau. Dari cerita tentang awal mulanya beliau dapat berkarier di Bank Indonesia sampai bagaimana beliau menjadi pemimpin diantara komunitasnya.

“Jika ingin terlihat maka berdirilah, jika ingin didengar maka berbicaralah”, begitu lah sebuah kutipan yang berhasil saya catat untuk diingat saat berkesempatan berbincang dengan beliau. Beliau melanjutkan kutipannya dengan nasehat bahwa kita akan sulit dilihat jika kita hanya diam dan tidak berpendapat. Dengan berbicara kita tak hanya “terlihat”, tapi juga berkesempatan memperoleh banyak teman, tentunya dengan berbicara yang bermanfaat dan bernilai positif yang akan mendatangkan banyak sahabat, bukan sebaliknya yang ada ntar bikin eneg kalo kebanyakan bicara yang tidak bermanfaat, hehe🙂. Dengan banyak sahabat inilah kita akan lebih mudah menjalani hidup, akan ada banyak rekan yang dengan ikhlas akan membantu jika kita kesulitan. Memiliki banyak sahabat tentu menyenangkan, tapi apakah sahabat hanya bisa didapatkan dengan berbicara? Jelas tidak karena hidup harus memiliki simbiosis mutualisme, kita memberikan manfaat dan berharap mendapat manfaat ketika kita membutuhkan, bukan berarti memberikan manfaat menjadikan kita tidak ikhlas karena berharap mendapat manfaat ya. Tapi dalam kehidupan kita pasti akan mendapat ujian, cobaan, dan halang rintangan lainnya yang dengan kehadiran orang lain sebagai sahabat yang ikhlas membantu semua itu akan dengan mudah dilalui.

Dalam kenyataannya tak jarang kita menemukan bahkan mengalami sendiri bagaimana teman yang hanya ingin mengambil manfaat dan menjauh ketika kita berada dalam kesulitan. Masih ingat ketika di Singapura saya sempat bercengkrama dengan seorang kenalan disana yang sempat terlontar dari mulutnya mengenai prinsip hidup yang ia pegang bahwa berteman lah dengan sebanyak-banyaknya teman dan ambil manfaat sebesar-besar darinya namun ketika ia jatuh maka saat itulah kita meninggalkannya. Saya terkaget ketika dengan bangganya ia mengatakan hal tersebut dan mencoba mempengaruhi saya dengan perandaian-perandaian yang membenarkan hal tersebut. Namun saya tetap tak mengamini hal demikian karena saya memegang prinsip yang berbeda.

Nasehat lainnya dari datuk adalah untuk banyak bergabung dan berinteraksi dalam organisasi, lewat organisasi atau komunitas kita dapat belajar berbicara didepan orang ramai. Karena kita tahu, tidak semua orang berani tampil untuk berbicara didepan orang ramai bahkan untuk sekedar memberikan sambutan dalam sebuah acara. Datuk pun mencontohkan semua nasehatnya dari dirinya sendiri, dengan keakraban yang alamiah dimilikinya, beliau memiliki banyak rekan dan sahabat yang siap membantu saat dibutuhkan. Beliau pun bercerita sepanjang beliau berkarier banyak sekali mengandalkan pergaulan. Mulai dari ketika berkunjung ke daerah, ia bisa numpang bermalam dirumah sahabat ketika ia kemalaman sewaktu tiba di daerah tersebut. Pengalaman terakhir beliau adalah kemaren ketika ia dipinjamkan mobil oleh rekannya yang ada di Bengkulu, ketika itu datuk meminta tolong untuk dicarikan mobil rental untuk ia pakai selama di Bengkulu tapi yang didapatkan malah pinjaman mobil gratis oleh rekannya tersebut. Semuanya berasal dari pergaulan, begitu datuk kembali menegaskan pentingnya pergaulan yang luas. Untuk bergaul kita harus ringan berbicara dan tentu saja berbicara yang bermanfaat. Masih banyak lagi sebenarnya nasehat dan sharing yang datuk berikan, mungkin akan saya sharing di lain waktu sambil saya mengingat detail apa saja yang sudah beliau bagikan, hehe.

Oh ya, berhubung masih dalam suasana lebaran, saya pribadi mohon maaf lahir bathin karena kelemahan dan keterbatasan diri dalam berbagi hal yang bermanfaat bagi sesama. Terakhir saya minta maaf jika tulisan dalam blog ini banyak menyinggung atau menyebabkan sakit hati, selamat hari Raya Idul Fitri 1434 H🙂

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s