Randhy Ichsan

Islam, Ekonomi, Indonesia

Kematangan “Logic” Negara Maju

Teringat sewaktu salah seorang dosen yang masih dibilang muda dan sedang melanjutkan pendidikan S3nya di luar negeri bercerita tentang pengalamannya saat berjalan-jalan di salah satu pusat perbelanjaan modern di luar negeri yang tak perlu saya sebutkan persisnya.

Ia bercerita ketika itu ia berencana membeli beberapa perlengkapan yang ia butuhkan untuk menunjang selama pendidikannya di negeri orang. Ia pun menuju sebuah mall yang besar dan terlengkap disana. Singkat cerita ia pergi ke lantai 3 dan disana dompetnya terjatuh karena kantong celananya ternyata bolong, ntah karena sobek sendiri atau tersangkut benda tajam semisal paku diperjalanan tadi. Namun ia baru menyadari saat ia kembali turun dari lantai 3 menuju lantai 1, saat itu ia batal membeli perlengkapan yang ia butuhkan karena stocknya sedang kosong. Untung ia cepat menyadari bahwa dompetnya terjatuh.

Ia pun balik ke lantai 3 berharap dompetnya ditemukan oleh petugas keamanan dan diselamatkan. Ia pun bertanya dan ditunjukkan pada seorang pria (ntah masih remaja atau sudah dewasa saya lupa persis ceritanya). Pria tersebut berdiri persis ditempat lokasi jatuhnya dompet, pria tersebut berdiri menanti pemilik dompet tersebut yang tak lain adalah dosen yang saya ceritakan ini. Pria tersebut pun segera mengembalikan dompet dosen saya segera setelah ia berjumpa dengannya. Sebagai wujud dan rasa berterima kasih, dosen saya pun memberikan uang kepadanya sebesar $100, itu jumlah yang kecil jika harus kehilangan dompet yang saat itu berisi sekitar $1000. Namun pria tersebut menolak dengan halus dan mengatakan “it’s okay sir” berulang kali karena dosen saya terus mendesak untuk menerimanya. Akhirnya pria tersebut tetap menolak dan dosen saya pun berterima kasih padanya.

Setelah mendengar cerita tentang hal tersebut saya jadi teringat cerita tentang salah seorang dosen senior lainnya. Dalam ilmu filsafat ada 3 hal berkehidupan sosial yaitu logic, ethic, dan moral. Logic mengenai benar atau salah, ethic mengenai kesopanan atau etika, dan moral mengenai moral. Ia mengatakan bahwa dunia luar sana masalah ethic mungkin tak sematang di Indonesia, dimana bahkan cara mengunyah makanan pun di Indonesia memiliki aturan kesopanan tersendiri, sedangkan di luar sana, memberikan benda dengan tangan kiri pun tak masalah. Tapi di luar sana, logic benar-benar matang, aturan dan pemahaman mengenai benar atau salah itu sangat dipahami.

Saya mengerti, ini merupakan pemahaman general atau secara umum, jika dirunut dan diperinci tentu saja masih terdapat tindak kriminal diluar sana, tapi secara umum sang dosen menjelaskan bahwa masyarakat diluar sana memahami masalah logic ini sehingga jumlah kriminalitas sangat kecil terjadi disana. Dan saya pun percaya setelah melihat sendiri bahwa ketaatan serta kepatuhan mereka akan peraturan begitu tinggi, meski tanpa ada aparat yang mengawasi disetiap jalanan. Pernyataan ini mungkin lebih tepat jika ditujukan pada masyarakat di negara maju yang bisa dijadikan tolak ukur agar bangsa ini tak hanya sekedar berkembang. Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari tulisan ini? Silahkan simpulkan sendiri🙂 semoga bermanfaat.

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s