Randhy Ichsan

Islam, Ekonomi, Indonesia

Pesanan Saham Sebagai Kewajiban atau Modal Setoran?

Saham merupakan salah satu jenis surat berharga yang diterbitkan oleh perusahaan atau entitas. Saham diartikan sebagai bukti atau tanda penyertaan modal dalam suatu perusahaan atau entitas.

Dalam tulisan ini saya tidak membahas tentang pengertian saham secara terinci, tapi saya akan membahas mengenai bagaimana perusahaan mengakui saham yang dipesan. Dalam beberapa kasus, saham sebuah perusahaan dapat dipesan terlebih dahulu (subscribe stocks) dengan harga sesuai dengan kesepakatan saat pemesanan. Yang menjadi masalah adalah apakah jumlah nominal saham pesanan tersebut telah dapat diakui sebagai modal setoran?

Secara konseptual ekuitas pemegang saham bersifat seperti kewajiban. Oleh karena itu, jumlah rupiah saham pesanan dapat diakui sebagai modal setoran hanya apabila kedua syarat berikut dipenuhi:
1. Jumlah rupiah yang disepakati dalam pemesanan merupakan klaim yuridis bagi perusahaan terhadap pemesanan dan tidak dapat dibatalkan.
2. Harga pemesanan tersebut akan ditagih penerbit dalam perioda yang cukup pasti dan tidak teralu lama.

Syarat (1) menuntut bahwa kesepakatan pemesanan saham merupakan kontrak yang mengikat sehingga menimbulkan piutang pesanan saham (stock subscription receivable) bagi penerbit yang kalau tidak dipenuhi maka perusahaan penerbit saham dapat menuntut secara yuridis untuk dilunasi. Dalam hal ini, piutang yang tidak dapat dibatalkan merupakan aset bagi penerbit sehingga modal setoran sebagai “kewajiban” dapat diakui. Klaim untuk menerima uang yang tidak dapat dibatalkan dilandasi oleh konsep hak-kewajiban tak bersyarat (unconditional right of offset) yang menyatakan bahwa pihak berkontrak pertama tidak mempunyai kewajiban apapun sebelum pihak kedua memenuhi apa yang menjadi hak pihak pertama.

Syarat (2) diperlukan agar hak-kewajiban tak bersyarat tidak berlaku sehingga kontrak tak bersifar eksekutori. Jadi, bila tidak ada kepastian tentang pelaksanaan transaksi penerbitan maka pemesanan tersebut jelas tidak dapat diakui sebagai modal setoran. Dengan kata lain, kalau ada kesanggupan yang sah dan untuk menginvestasi dana ke perusahaan dari pihak pemesan dan ada jaminan yang cukup pasti bahwa pemesan akan menyetorkan jumlah rupiah pemesanannya pada saat yang dijanjikan maka sebenarnya ada cukup alasan untuk mengakui pemesanan tersebut sebagai modal setoran walaupun tidak secara penuh (dicatat sebagai modal saham pesanan atau capital stocks subscribed).

Dalam pelaporan, piutang pesanan saham dipasangkan terhadap modal saham pesanan untuk menunjukkan modal setoran yang sesungguhnya. Selisihnya dengan sendiri merupakan jumlah rupiah yang benar-benar telah disetor (mengurangi piutang). Dalam bahasa hukum komersial di Indonesia, jumlah ini disebut dengan modal ditempatkan dan disetor penuh (subscribed and fully paid). Pengertian ditempatkan sebenarnya adalah diterbitkan tetapi ada kalanya perusahaan menerbitkan saham sebanyak yang telah dibayar.

Referensi: Soewardjono, 2005. Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan, Yogyakarta: BPFE

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s