Randhy Ichsan

Islam, Ekonomi, Indonesia

Adab Menasihati (Sebuah Nasihat Dalam Menasihati)

gambar: zainurihanif.com

Tingkat kebutuhan kita terhadap nasihat seringkali berbanding terbalik dengan rasa suka hati terhadapnya. Bagi penasihat, merasa diri lebih mulia daripada yang dinasihati adalah hijab yang menghalangi tersampaikannya kebenaran. Tiap orang punya cara untuk menyampaikan nasihat.Tiap orang pula mempunyai hawa nafsu yang membenci nasihat. Perhatikan kala masukan datang, hawa nafsu atau nuranikah yang menang?

Kesanggupan menutup aib saudara dipadu keterampilan menasihati dan ketulusan doa ialah daya agung ukhuwah yang kian langka. Penasihat tulus mencari 77 alasan untuk berbaik sangka. Jika semua tak masuk akal, dia berkesimpulan, “Saudaraku punya alasan yang tidak kutahu.” Tetapi cinta, yang kadang meluruhkan tegur dan kata, tak boleh meruntuhkan kewajiban yang diamanahkan Tuhannya: nasehat.

Nasihat, kawan sejati bagi nurani; menjaga cinta dalam ridhaNya. Tapi apa yang harus dilakukannya jika tiada perubahan jua? Menangis. Menangis dihadapan Rabbnya, mengadukan lemahnya diri dan buntunya upaya. Lalu sekali lagi disampaikannya nasihat, dan lagi, hingga dia tak punya oilihan selain mengajak para lebih utama untuk curahkan cinta.

Pernah bersyair Asy Syafi’i, “Nasihati aku kala sunyi dan sendiri; jangan di kala ramai dan banyak saksi. Sebab nasihat di tengah khalayak terasa hinaan yang membuat hatiku pedih dan koyak, maka maafkan jika aku berontak.

Adalah Imam Ahmad, agung dalam mengamalkannya. Dikisahkan oleh Harun ibn Abdillah Al-Baghdadi: Di satu larut malam pintuku diketuk orang. Aku bertanya, “Siapa?” suara di luar lirih menjawab, “Ahmad” kuselidiki, “Ahmad yang mana?” nyaris berbisik kudengar, “Ibnu Hanbal” Subhanallah, itu Guruku!

Kubukakan pintu dan beliau pun masuk dengan langkah berjingkat, kusilahkan duduk, maka beliau menempah hati-hati agar kursi tak berderit.

Kutanya, “Ada urusan sangat pentingkah sehingga engakau duhai Guru berkenan mengunjungiku di malam selarut ini?” Beliau tersenyum.

“Maafkan aku duhai Harun,” ujar beliau lembut dan pelan, “aku terkenang bahwa kau biasa masih terjaga meneliti hadist di waktu semacam ini. Kuberanikan untuk datang karena ada yang mengganjal di hatiku sejak siang tadi.” Aku terperangah, “Apakah hal itu tentang diriku?” Beliau mengangguk.

“Jangan ragu,” ujarku, “sampaikanlah wahai Guru, ini aku mendengarkanmu!”

“Maaf ya Harun,” ujar beliau, “tadi siang kulihat engkau sedang mengajar muruid-muridmu. Kaubacakan hadist untuk mereka catat. Kala itu mereka tersengat terik mentari, sedangkan dirimu teduh ternaungi bayangan pepohonan. Lain kali jangan begitu duhai Harun, duduklah dalam keadaan yang sama, sebagaimana muridmu duduk.”

Akiu tercekat, tak sanggup menjawab. Lalu beliau berbisik lagi, pamit undur diri. Kemudian melangkah berjingkat, menutup pintu hati-hati. Masya Allah, inilah Guruku yang mulia, Ahmad ibn Hanbal. Akhlak indahnya sangat terjaga dalam memberi nasihat dan meluruskan khilafku. Beliau bisa saja menegurku di depan para murid, toh beliau Guruku yang berhak untuk itu. Tetapi tak dilakukannya demi menjaga wibawaku. Beliau bisa saja datang sore, ba’da Maghrib atau Isya yang mudah baginya. Itu pun tak dilakukannya, demi menjaga rahasia nasihatnya.

Beliau sangat hafal kebiasaanku terjaga di larut malam. Beliau datang mengendap dan berjingkat; bicaranya lembut dan nyaris berbisik. Semua beliau lakukan agar keluargaku tak tahu; agar aku yang adalah ayah dan suami tetap terjaga sebagai imam dan teladan di hati mereka. Maka termuliakanlah Guruku sang pemberi nasihat, yang adab tingginya dalam menasehati menjadikan hatiku menerima dengan ridha dan cinta.

***

Adalah salah, terus saling menasihati tanpa hadirnya hasrat berbenah dan menjadikan diri lebih indah. Adalah keliru, tak saling bernasihat hanya sebab berselimut baik sangka pada diri dan saudara. Dan adalah galat, tak bergairah menasihati sebab diri sendiri ingin selalu nyaman berkawan kesalahan. Mari hidup dalam saling menasihati. Di jalan cinta para pejuang, ia adalah ketulusan, menjaga cinta dalam ridhaNya.

Sumber: Salim A. Fillah, 2012, Menyimak Kicau Merajut Makna, Yogyakarta: Pro-U Media

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s