Randhy Ichsan

Islam, Ekonomi, Indonesia

Konspirasi di Balik Ketelanjangan Wanita

Aurat wanita masih merupakan barang tabu dan langka untuk dipertontonkan hingga awal abad 20. Pakaian bagi wanita masih relatif tertutup dengan bentuk yang lebar menutupi ujung lengan hingga mata kaki. Pada 1950an muncul era “you can see” yang memamerkan lengan atas hingga ketiak wanita. Dapat dikatakan dari masa inilah dimulainya era “ketelanjangan” wanita.

Kemudian oleh para konspirator dalam dunia mode, dimulailah bertebaran pemandangan belahan dada, punggung (back less), dan belahan pantat (bottom less). Dengan diperkenalkannya bra tanpa tali pada 1968, para desainer mendapatkan kesempatan untuk lebih mengeksplorasi pakaian model top less (atasan terbuka). Lalu dipenghujung milenium kedua, mata para pria menjadi sangat dimanjakan oleh tiga perempat bagian tubuh wanita yang terbuka dengan bebasnya di tengah keramaian. Ada kekhawatiran (mungkin bagi sebagian lain menjadi harapan) bahwa beberapa puluh tahun mendatang kondisi ketelanjangan perempuan mungkin akan kembali seperti zamannya Hawa, alias tanpa sehelai benang pun. Sekarang sudah dimulai tandanya dengan maraknya pengguna hot pants.

Banyak kritikus mengatakan bahwa peran serta para perancang mode sekuler tidak dapat dilepaskan dari aroma skenario ini. Secara logika, mereka lah yang mensosialisasikan dan memperkenalkan mengenai “keterlanjangan”. Produk-produk fashion dilabel sebagai kendaraan menuju kebebasan wanita sesungguhnya. Tapi dibalik keuntungan komersil yang tidak sedikit dari bisnis “menelanjangi” wanita ini banyak orang menduga ada proyek lain yang lebih besar di balik gerakan itu. Tujuan besarnya memobilisasi sebanyak-banyaknya perempuan dunia untuk memberontak terhadap aturan dalam kitab suci. Muaranya adalah “Pembangkangan kepada Tuhan”.

Teori lain mengatakan ini merupakan usaha pihak barat yang merasa terancam dengan pertumbuhan Islam. Buktinya, adanya aturan pelarangan jilbab oleh parlemen Prancis. Padahal Prancis merupakan negara Eropa dengan penduduk Islam terbesar. Sejak lama anak-anak muda barat hidup dalam ideologi agama tanpa arah. Ketika kesadaran mulai merebak bahwa ideologi itu justru membawa mereka pada akhir yang sia-sia, muncul keinginan untuk mencari keyakinan yang lebih nyata dan memiliki bukti-bukti kebenaran tanpa multi tafsir. Karenanya, Islam menjadi alternatif yang menggoda.

Kemudian, mulai muncul kecemasan dari barat terhadap “Islamisasi internal”. Maka strategi paling jitu adalah membidik kaum wanita yang sangat sensitif terhadap isu-isu keterbukaan. Pintu masuk paling mudah adalah kecantikan. Setiap wanita ingin cantik dan menjadi pusat perhatian pria. Lalu kelemahan pria adalah aurat wanita (seks). Mengacu pada teori Sigmund Freud yang mengatakan bahwa seks penggerak aktivitas manusia, bermuncul lah generasi baru yang mengenyampingkan moralitas sebagai pembatas bagi hasrat seksual. Teori ini melanjutkan bahwa langkah terbaik untuk memanjakan mata para pria dan hasrat seksualnya yakni dengan memberikan pandangan seluas-luasnya pada aurat perempuan. Kemudian, sebagai pelaksananya adalah dunia fashion, hiburan, dan media. Setelah itu, para perempuan muda menjadi pion-pion yang dikendalikan oleh “tangan-tangan tak terlihat” untuk memancing perilaku primitif laki-laki sehingga agama hanya akan dipandang sebagai kemunafikan belaka.

Sumber: Afred Suci dkk, 2012, 151 Konspirasi Dunia Paling Gila & Mencengangkan, Jakarta, PT. WahyuMedia

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s