Randhy Ichsan

Islam, Ekonomi, Indonesia

Misteri Nasional Demokrat dan Harry Tanoe

Saya sempat kecewa ketika Nasional Demokrat akhirnya mengukuhkan diri sebagai partai politik, walaupun kala itu Surya Paloh menegaskan bahwa organisasi masyarakat Nasional Demokrat tidak memiliki keterikatan dengan partai Nasional Demokrat, tapi tetap saja ini menimbulkan kekecewaan, karena awalnya Surya Paloh menjanjikan bahwa organisasi masyarakat ini bukan cikal bakal terbentuknya partai politik. Saya sedari awal sudah curiga, bagaimana mungkin tidak, sebagian besar pengurus Nasional Demokrat berasal dari kalangan politisi, tentunya sedikit banyak sebagian mereka bergabung untuk mengincar kekuasaan.

Partai Nasional Demokrat merupakan satu-satunya partai baru yang lolos untuk mengikuti pemilu 2014 dengan nomor urut 1, ya, partai yang bisa dibilang hebat mengingat usianya yang masih belia, tidak mengherankan mengingat partai ini dibesarkan oleh bos-bos media besar di Indonesia, Media Group dan MNC Group, dengan partisipasi bos-bos media besar ini Nasional Demokrat mensosialisasikan dirinya ke masyarakat dengan leluasa, membangung citra dengan slogan restorasi Indonesia beserta gerakan restorasinya, disamping tentu saja sokongan dana yang kuat dari para tokoh-tokohnya.

Ormas Nasional Demokrat dicetuskan oleh Surya Paloh dan Sri Sultan Hamengkubuwono X beserta 45 tokoh lainnya seperti Anies Baswedan, Jeffrie Geovanie, Siswono Yudo Husodo, dan Patrice Rio Capella. Sejarah pembentukan ormas Nasional Demokrat ini tak lepas dari opini yang mengatakan bahwa Surya Paloh mendirikannya sebagai bentuk kekecewaan ketika ia gagal menjadi ketua umum partai Golkar tahun 2009. Pada tanggal 26 Juli 2011 Partai Nasional Demokrat lahir sebagai partai politik baru. Sebelumnya, di tanggal 6 Juli 2011 Sri Sultan Hamengkubuwono X mengundurkan diri hal ini karena merasa kecewa dengan terbentuknya Nasional Demokrat menjadi partai politik dan berorientasi kekuasaan.

Diawal pembentukannya partai ini memang telah banyak menimbulkan kekecewaan kalangan internalnya. Dan kini ketika Nasional Demokrat telah berhasil lolos menjadi peserta pemilu 2014, empat orang petingginya kembali mengundurkan diri, yaitu ketua dewan pakar Harry Tanoe, sekjen Ahmad Rofiq, wasekjen Saiful Haq, dan ketua dewan internal Endang Tirta. Pengunduran ini terkait dengan pengambilalihan posisi ketua umum DPP Nasional Demokrat yang sebelumnya dipegang oleh Patrice Rio Capella nanti pada kongres pertama partai Nasional Demokrat akhir bulan ini, mereka mengaku tidak memiliki kecocokan visi dan misi lagi.

Lagi-lagi menurut pendapat pribadi saya, mundurnya Harry Tanoe merupakan momok bagi Nasional Demokrat, disamping masyarakat yang mulai berkurang simpatinya pada partai ini karena konflik internal yang telah terjadi berulang kali, masyarakat pun mulai berpikir negatif pada sosok Surya Paloh. Surya Paloh dianggap menzalimi para kader Nasional Demokrat dengan stigma Surya Paloh memiliki ambisi kuat menjadi RI 1 dengan mengambil alih kepemimpinan di partai Nasional Demokrat. Sebaliknya, momen ini merupakan momen yang bagus bagi Harry Tanoe, dengan alasan politik idealisme, ia akan mendapatkan perhatian dan simpati dari masyarakat setelah kemunduran dirinya dari Nasional Demokrat. Para kalangan muda yang merasa diwakili oleh sikap Harry Tanoe ini akan menjadi pendukung setia. Dengan gampang melalui media yang dimilikinya, ia dapat melakukan pencitraan sebagai orang yang telah di dzalimi dalam partai Nasional Demokrat. Harry Tanoe belajar dari sejarah bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang penuh rasa iba, dengan kesan di dzalimi elektabilitas Harry Tanoe akan meningkat tajam.

Kesempatan emas ini telah terbaca oleh sebagian partai politik seperti Gerindra dan Hanura, mereka mengaku siap menempatkan Harry Tanoe pada posisi strategis, jelas saja banyak partai politik yang berminat merekrut bos media ini, setidaknya dukungan media sekelas RCTI, MNC TV, Global TV dan Harian Seputar Indonesia siap mensukseskan dalam pemilu 2014 esok.

Kita lihat saja, apakah Harry Tanoe benar berpolitik atas dasar idealisme, saya percaya hal itu jika nanti Harry Tanoe tidak merapat ke lain partai, tapi jika ia memilih bergabung bersama partai lain, jelas semua yang dilakukannya adalah strategi politik belaka, dengan tujuan yang sama pula, mengincar kekuasaan. Sama-sama kita pantau dan kritisi.

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s