Randhy Ichsan

Islam, Ekonomi, Indonesia

Gagal Itu Biasa

Seperti biasa, setiap pagi kakek guru saya yang bernama Jamil Azzaini selalu memposting tulisan menarik pada blognya. Ibarat sarapan di pagi hari, beliau selalu memberikan pelajaran akan kebijaksanaan hidup sebelum memulai hari. Tulisan beliau pada pagi ini berjudul Gagal Itu Biasa, sangat menginspirasi dan membuat saya sangat tertarik untuk menyalin tulisannya tersebut pada blog ini.

Tulisan beliau kali ini tentang ilmu yang ia peroleh saat acara muhasabah akhir tahun Harian Umum Republika di Pusdai, Bandung. Dan kini beliau akan membagikan ilmunya melalui tulisan berikut.

Setelah Prof. Miftah Faridl, giliran Aa Gym berbagi ilmu yang sangat bergizi. Semua poin yang disampaikan Aa Gym menarik. Salah satunya membahas tentang pelajaran dari buah kelapa.

Bagaimana proses untuk menjadi sari pati kelapa? Kelapa dijatuhkan dengan sangat keras ke tanah dari atas pohon. Setelah itu, kelapa digunduli dengan cara ditarik ke sana kemari. Bahkan setelah gundul, kelapa harus dipukul dengan sangat keras agar pecah. Selesai? Belum.

Setelah kelapa pecah, buahnya harus dicungkil atau dilepaskan dari batoknya. Tidak cukup sampai disitu, kelapa masih harus diparut menggunakan besi-besi kecil tajam yang ditanamkan pada kayu. Belum juga puas, hasil parutan itu masih harus diperas. Setelah semua proses itu usai, barulah dihasilkan sari pati buah kelapa yang kita kenal sebagai santan.

Begitu pula kehidupan, untuk menjadi orang yang hebat kita harus melalui proses jatuh bangun. Saat ujian datang silih berganti, jangan bersedih. Itu adalah bagian proses yang harus kita lalui agar dihasilkan kehidupan yang lebih bermutu. Kuat dan sabar saat menanggung derita adalah kunci menuju kehidupan yang lebih bermakna.

Untuk hidup yang lebih bermartabat tidak selalu dikelilingi oleh sesuatu yang nikmat. Diperlukan rasa sakit, perasaan tak nyaman, hinaan dan segala derita yang terkadang datangnya tidak kita undang. Tapi itulah proses yang harus kita lalui untuk mendapatkan sari pati kehidupan.

Justru waspadalah saat hidup Anda “ayem tentrem” alias nyaman, tenang dan tak ada cobaan. Boleh jadi kondisi itu adalah awal dari menurunnya kehidupan Anda. Bila hidup diibaratkan bersepeda, saat Anda tak perlu mengayuh itu pertanda jalan sedang menurun. Namun, bila Anda harus mengayuh, itu pertanda kehidupan Anda sedang menanjak menuju puncak.

Bila ternyata cobaan tak kunjung datang, maka buatlah kegiatan yang bernyali dan menantang. Ada risiko gagal dalam kegiatan itu, namun juga ada manfaat besar yang bisa Anda peroleh bila kegiatan itu berhasil.

Percayalah, bila kita sering menghadirkan kegiatan yang menantang, hidup menjadi ringan. Sebaliknya, bila kita sering menghindari tantangan, hidup akan stagnan dan berpeluang besar membuahkan derita di hari kemudian.

Kelapa tidak akan menghasilkan sari pati bila prosesnya berhenti di tengah jalan. Anda pun tidak akan menemukan sari pati kehidupan bila tidak sabar saat menghadapi proses kehidupan.

Indah bukan? Silahkan follow guru saya di twitter atau kunjungi websitenya di sini. Jangan lupa, mari doakan seluruh guru yang dengan ketulusan hatinya telah rela dan ikhlas membagikan ilmunya untuk kita.

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s