Randhy Ichsan

Islam, Ekonomi, Indonesia

Pemimpin

Belakangan banyak kampanye calon kepala daerah menghiasi jalanan dan televisi, sudah tidak mengherankan kalau sekarang banyak orang berebut dan berharap menjadi pemimpin. Kursi seorang pimpinan tak pernah kekurangan peminat, betapa tidak, iming-iming materi, kekuasaan, dan fasilitas sebagai imbalan dari sebuah jabatan pemimpin begitu menggiurkan sehingga menarik untuk diperebutkan. Padahal mengemban amanah sebagai pemimpin merupakan suatu tugas yang berat dan akan dimintai pertanggungjawabnya dihadapan Allah SWT, apapun bentuk kepemimpinannya itu.

Pada hakekatnya setiap dari kita adalah pemimpin dan bertanggung jawab sesuai lingkup masing-masing. Mulai dari diri sendiri, keluarga, sampai lingkungan masyarakat luas. Rasulullah SAW telah memberikan contoh nyata dalam pribadinya yang agung mengenai sebuah kepemimpinan. Michel Hart dalam buku 100 orang paling berpengaruh menempatkan Muhammad SAW dalam urutan pertama. Tak ada yang meragukan kepemimpinan Rasulullah SAW, kepemimpinan beliau tidak hanya berpengaruh pada zamannya saja, tetapi menginspirasi dan berpengaruh sepanjang masa. Sosok Rasulullah SAW yang berwibawa, berkarakter, bijaksana, tegas, jujur, adil, dermawan, dan penuh kasih sayang memantaskan beliau sebagai sosok yang pantas untuk diteladani.

Sebagai umat muslim, sudah semestinya kita meneladani Rasulullah SAW, terlebih pemimpin daerah dan negara, karena mereka-lah yang akan menentukan arah kehidupan masyarakat yang dipimpinnya, apakah lebih baik atau malah lebih buruk. Seorang pemimpin juga merupakan contoh bagi masyarakat yang dipimpinnya. Ajaran Islam yang agung memang telah sering dikumandangkan dalam pernyataan, namun sangat disayangkan belum diwujudkan dalam kenyataan.

Begitu miris mendengar pemimpin yang telah dipercaya masyarakat atau rakyat untuk mengemban amanah, malah menyelewengkannya, berlaku tidak adil, mementingkan diri sendiri dan golongan, serta yang lebih parah, memakan uang rakyat atau yang biasa kita sebut sebagai Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Untuk menjadi negara yang maju, bermartabat dan rakyatnya sejahtera sudah menjadi hal mutlak diperlukan pemimpin yang memiliki teladan Rasulullah SAW, terlebih mengenai kejujuran, kebijaksanaan, dan kasih sayang. Banyak pemimpin yang mematikan akhlak mulia dan menggantikannya dengan akhlak hina. Pemimpin yang koruptor misalnya, justru memberikan contoh kepada rakyatnya mengenai keserakahan. Tidak heran jika yang menjamur bukan kejujuran, melainkan kebohongan. Bahkan dipengadilan terjadi jual beli perkara. Bila sudah tidak ada keadilan dilembaga peradilan, rakyat bisa menjadi anarkis menghakimi dengan caranya sendiri. Begitupun dengan pemimpin yang menebar tuduhan dan fitnah yang dapat menyebabkan perpencahan dalam rakyatnya.

Rasulullah SAW dengan keteladanan akhlaknya yang agung dalam kepemimpinannya menumbuhkan dan memberikan contoh akhlak mulia pada rakyatnya. Dengan kepemimpinan akhlak mulia inilah potensi seseorang bisa diselaraskan dengan yang lain. Meski kadang berbeda pendapat, bisa saling memahami. Walau berbeda pendapat, masing-masing bisa memaklumi. Perbedaan bukan melemahkan, tapi justru saling melengkapi. Seperti orkestra, meski alat dan suaranya berbeda-beda, namun tetap terdengar mengalun merdu. Yang kuat menolong yang lemah, yang lemah mendoakan yang kuat. Yang kaya memberi yang miskin, yang miskin mendoakan yang kaya dengan tetap berusaha dan bersabar. Pemimpin dan yang dipimpin saling menghormati dan mendoakan. Semua diselaraskan menjadi masyarakat yang dinamis dan indah. Inilah tugas pemimpin, menyelaraskan dan menjadikan setiap rakyatnya bersatu walaupun memiliki perbedaan. Sebaliknya, kepemimpinan yang buruk, justru mengundang perpecahan. Potensi umat saling bertabrakan dan saling meniadakan. Banyak energi negatif yang justru menyedot kekuatan. Tanpa kepemimpinan yang baik, jumlah umat yang banyak hanya akan menjadi kerumunan. Keberadaannya seperti buih yang terombang ambing tak tentu arah.

Dengan spirit tauhid, akhlak mulia dan ukhuwah, sebagaimana diteladankan Rasulullah SAW, kepemimpinan akan mengundang rahmat Allah SWT, mengundang keterlibatan dan pertolongan Allah. Inilah solusi dari permasalahan menyangkut kepemimpinan, Insya Allah, Wallahu a’lam

 

Referensi:

Ust. Hanif Hannan, Edisi Rabiul Awal 1433 H – Februari 2012, Meneladani Kepemimpinan Rasulullah – Majalah Mulia

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s